BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sastra Secara
kronologis adalah tulisan. Dilihat dari maknanya sastra adalah kegiatan yang
kreatif sebuah karya sastra. Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi,
bukan pertama tama sebuah imifasi. Sang seniman menciptakan sebuah dunia baru,
meneruskan proses penciptaan di dalam semesta alam, bahkan menyempurnakannya.
Sastra merupakan
suatu luapan emosi yang spontan. Dalam puisi terungkapkan nafsu-nafsu kodrat
yang bernyala-nyala, hakekat hidup dan alam. Menurut Jackobson sastra merupakan
suatu yang bersifat otonom. Tidak mengacu pada sesuatu yang lain. Sastra tidak
bersifat komunikatif. Sang penyair hanya mencari keselarasannya di dalam
karyanya sendiri. Menurut Coleridge sastra merupakan suatu yang otonom yang
bercirikan suatu koherensi. Pengertian koherensi itu mengacu pada keselarasan
yang mendalam antara bentuk atau ungkapan tertentu. Berangkat dari berbagai
persoalan yang berkaitan dengan pendefinisian sastra yang bermacam-macam
tersebut, maka dikalangan akademik seringkali sastra juga didefinisikan sesuai
dengan kerangka teori yang mendasarinya.
Berbicara tentang
psikologi berarti berbicara tentang kehidupan manusia. Dikatakan demikian
karena bertolak dari konsep dasar psikologi, bahwa psikologi adalah ilmu yang
mempelajari tentang jiwa. Dengan belajar psikologi, seseorang mampu membaca
atau mengkaji sisi-sisi kehidupan manusia dari segi yang bisa diamati. Jiwa itu
bersifat abstrak, sehingga ia dapat diamati secara empiris. Padahal objek
kajian setiap ilmu harus dapat diobservasi secara individu. Dalam hal ini
“jiwa” atau “keadaan jiwa” hanya dapat diamati melalui gejala-gejalanya.
Walaupun besar kemungkinan gerak-gerik lahir seseorang yang belum tentu
menggambarkan keadaan jiwa yang sebenarnya. Dalam psikologi ini dikenal juga
tentang psikologi sastra, dimana sastra sendiri merupakan sebuah bidang
kebudayaan manusia yang paling tua yang mendahului cabang-cabang kebudayaan
lainnya (Mangunwijaya, 1986:3-7). Sistem kerja psikologi sastra tidak sama
seperti psikologi yang lainnya. Psikologi sastra lebih mengarah pada penelitian
yang luas yang ditandai dengan penelitian terhadap responden yang jumlahnya
terbatas. Dan juga sering menerapkan metode penelitian yang baru untuk menguji
hipotesis yang diformulasikan dalam suatu fase yang lebih awal.
B. Rumusan
1. Konsep-konsep dalam Psikologi Sastra.
2. Keterkaitan antara Psikologi dengan sastra
3. Metode dan Analisis Pendekatan Psikologis
Sastra.
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui konsep-konsep
psikologi sastra,
2. Mengetahui
hubungan keterkaitan antara psikologi dengan sastra
3. Mengetahui Metode
dan Analisis Psikologi dalam sebuah karya Sastra
4. Untuk memenuhi
Tugas mata kuliah Teori Sastra
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Psikilogi
Dalam kaitannya
dengan konsep psikologi sastra, ada beberapa tokoh psikologi terkemuka yang
mengungkapkan konsep psikologi sastra sebagai berikut :
1. Sigmund Freud
Dalam konsepnya Freud
bertolak pada psikologi umum, dia menyatakan bahwa dalam diri manusia ada 3
bagian yaitu ide, ego dan super-ego. Jika ketiganya bekerja secara wajar dan
seimbang maka manusia akan memperlihatkan watak yang wajar pula, namun jika
ketiga unsur tersebut tidak bekerja secara seimbang, dan salah satunya lebih
mendominasi, maka akan terjadilah peperangan dalam batin atau jiwa manusia,
dengan gejala-gejala resah, gelisah, tertekan dan neurosis yang menghendaki
adanya penyaluran. Dalam penggambarannya tentang pengarang dan menciptakan
karya sastra, Freud mengatakan bahwa pengarang tersebut diserang penyakit jiwa
yang dinamakan neurosis bahkan bisa mencapai tahap psikosis, seperti sakit
saraf dan mental yang membuatnya berada dalam kondisi yang sangat tertekan,
keluh kesah tersebut mengakibatkan munculnya ide dan gagasan, yang menghendaki
agar disuplimasikan dalam bentuk karya sastra.
2. Mortimer Adler Simon
Adler merupakan salah
seorang murid Freud. Namun dia banyak menyangkal pendapat dari Freud sendiri.
Adler terkenal dengan sebutan inferiority complet atau perasaan rendah diri,
yang pada dasarnya adalah merupakan teori dari Al-Jahid. Teori tersebut memungkinkan
Adler menyelami teks untuk mencari bentuk-bentuk pengganti kekurangan dalam
diri, akan tetapi dalam penerapannya Adler tidak bisa mencapai kepuasan seperti
kepuasan yang dicapai oleh Freud.
B. Psikologi
Secara etimologi kata
psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno Psyche dan logos. Kata psyche berarti
“jiwa, roh, atau sukma”, sedangkan kata logos berarti “ ilmu jiwa”. Jadi
psikologi secara harafiah berarti “ilmu jiwa” atau ilmu yang objek kajiannya
adalah jiwa. Istilah psikologi digunakan pertama kali oleh seorang ahli
berkebangsaan Jerman yang bernama Philip Melancchton pada tahun 1530. Adapun
pendapat dari tokoh-tokoh lain tentang psikologi yakni :
1. Psikologi merupakan suatu ilmu yang
menyelidiki serta mempelajari tentang tingkah laku serta aktivitas-aktivitas,
dimana tingkah laku serta aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup
kejiwaan. Jadi yang dipelajari bukanlah tingkah lakunya “an Sich” (Bimo
Walgito, 1981).
2. Menurut Siswantoro (2005:26) Psikologi
sebagai ilmu jiwa yang menekankan perhatian studinya pada manusia terutama pada
perilaku manusia (Human behavioristik or action).
3. Berbicara tentang manusia, psikologi
jelas terlibat erat karena psikologi mempelajari perilaku. Perilaku manusia
tidak terlepas dari aspek kehidupan yang membungkusnya dan mewarnai
perilakunya. Hal ini dikatan oleh Teeuw (1991:62-64).
C. Psikologi Sastra
Psikologi sastra
meliputi bidang penelitian yang luas, hanya ada sebagian yang relevansi dengan
penelitian resepsi sastra secara langsung, yakni penelitian psikologis yang
berkenaan dengan pernyataan apakah reaksi interpretatif dan reaksi evaluatif
pembaca terhadap teks sastra dapat diselidiki. Psikologi sastra adalah kajian
sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan.
Istilah psikologi
sastra mengandung empat kemungkinan pengertian :
Studi psikologi
pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi
Studi proses kreatif
Studi tipe dan
hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra.
Studi dampak sastra
terhadap pembaca (psikologi pembaca).
Dari keempat
pengertian di atas yang paling berkaitan dengan bidang sastra adalah pengertian
ke-3, sedangkan pengertian nomor (1) dan (2) merupakan bagian dari psikologi
seni. Studi tentang psikologi pengarang dan proses kreatif sering dipakai dalam
pengajaran sastra, namun dalam penilaian sastra sebaiknya asal-usul dan proses
penciptaan sastra tidak menjadi patokan untuk memberi penilaian.
D. Kaitan antara Psikologi dengan Sastra
Hubungan atau kaitan
antara psikologi dengan sastra sebenarnya telah lama ada semenjak usia ilmu itu
sendiri. Akan tetapi penggunaan psikologi sebagai sebuah pendekatan dalam
penelitian sastra belum lama dilakukan, menurut Robert Downs (1961:1949, dalam
Abdul Rahman, (2003:1), bahwa psikologi itu sendiri bekerja pada suatu wilayah
yang gelap, mistik dan yang paling peka terhadap bukti-bukti ilmiah. Psikologi
dalam karya sastra mempunyai kaitan yang tercakup dalam dua aspek yaitu : Unsur
intrinsik dan unsur ekstrinsik. Dalam aspek ekstrinsik berbicara tentang
hal-hal yang berkaitan dengan faktor-faktor kepengarangan dan proses
kreativitasnya. Sementara unsur intrinsik membicarakan tentang unsur-unsur
intrinsik yang terkandung dalam karya sastra seperti unsur tema, perwatakan dan
plot. Jatman ((1985:165) berpendapat bahwa karya sastra dan psikologi memang
memiliki pertautan yang erat, secara tak langsung dan fungsional. Pertautan tak
langsung karena, baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu
kehidupan manusia. Psikologi dan sastra memiliki hubungan fungsional karena,
sama-sama untuk mempelajari keadaan kejiwaan orang lain, bedanya dalam
psikologi gejala tersebut riil, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif.
Dalam kaitannya dengan psikologi dalam karya sastra, Carld G.Jung menandaskan
bahwa karena psikologi mempelajari proses-proses kejiwaan manusia, maka
psikologi dapat diikut sertakan dalam studi sastra, sebab jiwa manusia
merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan dan kesenian.
BAB III
METODE DAN ANALISIS
A. METODE PENDEKATAN PSIKOLOGIS
Secara etimologis,
Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang
ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara
kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
Fungsi dari metode adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dalam
keterkaitannya dengan pendekatan Psikologis sastra, terdapat berbagai macam
metode yang dapat digunakan, berikut beberapa metode yang digunakan:
1. Metode Filosofis
Yaitu metode yang
memanfaatkan pemikiran. Dalam metode ini mencangkup diantaranya:
a. Metode Intuitif
Metode ini adalah
metode yang dapat dilakukan dengan cara sengaja maupun tidak disengaja. Yaitu
dengan memperhatikan atau menyimak seseorang dikehidupan sehari-harinya.
Tujuannya adalah untuk mengetahui situasi yang akan terjadi, karna kita telah
mengetahui dari yang biasa terjadi
b. Metode Kontemplatif
Metode ini adalah
metode yang dilaksanakan dengan cara merenungkan kontemplasi terhadap objek
yang diselidiki, dengan mempergunakan kemampuan berfikir yang optimal
(konsentrasi). Metode ini memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda denga metode
intuitif, tetapi dalam metode ini kita bisa memikirkan atau menggabungkan apa
yang baru kita temukan dengan yang sudah kita temukan.
c. Metode yang Bersifat Filosofis Religius
Metode yang digunakan
untuk mengetahui pribadi manusia dengan melihat norma-norma yang ada didalam
agama. Tujuan untuk mengetahui psikologi manusia atau pribadi manusia dengan
menggunakan materi agama yang ada dalam kitab-kitab agama.
2. Metode Observasi
Observasi berasal
dara kata observe, yang berarti meneliti atau mengamati atau pengamatan dan
pencatatan fenomena-fenomena yang diselidiki dengan sistimatis. Observasi
adalah mengamati situasi yang ada, situasi yang terjadi secara spontan, tidak
di buat-buat, yang disebut juga dengan situasi yang sesuai dengan kehendak alam
(alamiah). Dan hasil pengamatan dicatat
secara teliti untuk diambil kesimpulan-kesimpulan umum dan khusus. Tujuan
metode observasi dalam psikologi banyak dilakukan untuk memepelajari tingkah
laku, interaksi sosial dan aktifitas keagamaan dan kejadian lain yang dapat
dieksperimenkan. Pada hahekatnya eksperimen merupakan salah satu metode
observasi yang dibatasi dengan menciptakan kondisi-kondisi tertentu.
B. ANALISIS PUISI
PUISI
Berdiri Aku
(Karya: Amir Hamzah)
Berdiri aku disenja
senyap
Camar melayang
menepis buih
Melayah bakau
mengurai puncak
Berjulang datang ubur
terkembang.
Angin pulang menyejuk
bumi
Menepuk teluk
mengempas emas
Lari ke gunung
memuncak sunyi
Berayun alun di atas
alas
Benag raja mencelup
ujung
Naik marak menyerak
corak
Elang leka sayap
tergulung
Dimabuk warna
berarak-arak.
Dalam rupa maha
sempurna
Rindu sendu mengharu
kalbu
Ingin datang merasa
sentosa
Menyecap hidup
bertentu tuju.
C. PENAFSIRAN PEMAHAMAN PUISI
Puisi dapat mengandung isi yang bersifat
faktual serta sesuatu yang bersifat abstrak. Maka dalam memahaminya, terdapat
puisi yang dapat langsung difahami dan ada juga diperlukan penafsiran terlebih
dahulu. Dalam menafsirkan puisi terdapat banyak teori-teori. Namun Tzvetan
Todorov, memperingatkan tentang bahaya mendewakan teori. Bagi Todorov adalah
lebih baik berspekulasi, sambil juga meraba-raba, tetapi sepenuhnya memiliki
kesadaran diri, dari pada merasa memiliki pemahaman tetapi masih buta dan nekat
bergerak membabi buta.
Dan berikut contoh
penafsiran pemahaman secara sederhana puisi “Berdiri Aku” karya Amir Hamzah ini
dapat disimpulkan sebagai berikut:
Dengan puisinya ini,
Amir Hamzah (pengarang) merenung dalam kesendiriannya, dimana pengarang
menunggu/mencari tentang makna hidup (judul puisi). Dimana warna-warni,
seluk-beluk, kejadian-kejadian, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam
ini sangat beraneka ragam, corak, dan jenis. Pengarang mendeskripsikan
kehidupan, sebagaimana kehidupan dan hiruk pikuk peristiwa yang terjadi di
laut, pantai, dan gunung (bait 1 dan 2), dan pelangi (bait 3). Lalu dalam
kesendiriannya ini, pengarang mencoba merenung mencari sesuatu yang
diidam-idamkan semua manusia. Sesuatu yang dicari dalam hidup ini, yaitu
tentang tujuan yang pasti dan terarah. Dan hal inilah yang menjadi pangkal
kehidupan manusia. Yaitu masa aman, tentram, masa kesejahteraan, dan
kebahagiaan (bait 4).
D. KAJIAN BERDASARKAN TINJAUAN PSIKOLOGIS
Asumsi dasar penelitian pikologi sastra antara
lain dipengaruhi oleh anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari suatu
kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar
(subconcius) setelah jelas baru dituangkan kedalam bentuk secara sadar
(conscius). Dan kekuatan karya sastra dapat dilihat dari seberapa jauh
pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu ke dalam
sebuah cipta sastra.
Pada puisi “Berdiri
Aku” ini, Amir Hamzah mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaannya tentang sesuatu
yang merasuk dalam imajinasi dan pemikirannya tentang pencarian makna hidup dan
tentang sesuatu yang menjadi tujuan utama manusia dalam kehidupan ini. Lalu
pengalamannya tersebut menjadi imajinasi yang melahirkan produk kreatifitas
yang berupa karya sastra dalam puisinnya yang berjudul “Berdiri Aku” ini.
Misalnya pada bait ke
1
Berdiri aku disenja
senyap
Camar melayang
menepis buih
Melayah bakau
mengurai puncak
Berjulang datang ubur
terkembang.
Penulis mengungkapkan
rasa emosionalnya tentang apa yang dirasakannya pada apa yang dilihatnya.
Penantian dan perenungan diri terhadap apa yang dilihatnya tentang
peristiwa/kejadian di suatu pantai/laut menjadi pengalaman yang mendorongnya
untuk melakukan sesuatu. Begitu juga pada bait ke dua :
Angin pulang menyejuk
bumi
Menepuk teluk
mengempas emas
Lari ke gunung
memuncak sunyi
Berayun alun di atas
alas.
Pada bait ini,
penulis mengungkapkan hubungan antara kehidupan manusia dengan peristiwa alam.
Terlihat pada baris – Angin pulang menyejuk bumi – Menepuk teluk mengempas emas
– bahwa angin laut (peristiwa alami) dapat dimanfaatkan oleh nelayan (kegiatan
manusia) untuk membawa perahunya ke daratan dengan membawa hasil lautnya.
Selain itu perwatakan
tokoh yang ditampilkan Amir Hamzah mampu menggambarkan perwatakan tokoh yang
semakin hidup. Dimana tokoh “aku” pada puisinya ini tiada lain adalah dirinya
sendiri. Namun selain itu tokoh “aku” juga bisa mewakili manusia secara umum.
Dimana terlihat dalam setiap baitnya, tokoh “aku” menjadi subjek sekaligus
objek dari setiap makna yang dimaksudnya.
Sentuhan-sentuhan
emosi yang ditampilkan tokoh “aku” dalam puisi Amir Hamzah ini sebetulnya
gambaran kekalutan dan kejernihan batin pencipta karya sastranya sendiri. Hal
ini menjadikan keorsinilan karya sastra ini. Kekalutan ini terlihat pada
penggambarannya tentang proses alam sebagai bagian dari yang mewarnai
kehidupan, dan yang menggambarkan peristiwa-peristiwa/kejadian-kejadian dari
kehidupan manusia. Hal ini nampak pada bait ke 3 :
Benag raja mencelup
ujung
Naik marak menyerak
corak
Elang leka sayap
tergulung
Dimabuk warna
berarak-arak.
Bait ini bermakna,
pelangi yang membentang dari satu ujung, naik ke langit dan turun di satu ujung
lainnya dengan keindahan warna-warni yang dapat membuat lupa siapapun yang
melihatnya, yang padahal pelangi itu hanyalah sesuatu yang semu, tidak dapat
disentuh, namun hanya dapat dilihat saja. Hal ini juga merupakan gambaran
pengarang tentang kehidupan ini. menggambarkan tentang ambisi manusia, nafsu
manusia, dalam berusaha dan melihat sesuatu tentang duniawi.
Amir Hamzah dalam
mencipta puisi ini, menggunakan cipta, rasa, dan karyanya. Ia, mengungkapkan
gejolak jiwanya tentang kehidupan dan tujuan kehidupan ini. Dimana pada bait
terakhir, penulis mengungkapkan gagasan dari puncak kegelisahan jiwaannya
dengan ungkapannya bahwa dalam semua
peristiwa yang terjadi baik yang terjadi oleh sebab manusia ataupun alamiah
merupakan gambaran dari kehidupan yang dapat ditafakuri manusia sebagai sesuatu
yang sangat sempurna, dari kegelisahan rasa rindu yang menggugah rasa haru di
hati dan perasaan untuk mencapai keinginan yang didambakan yaitu merasakan
kebahagiaan, kesejahteraan dalam tujuan yang jelas dalam kehidupan ini. Bait
tersebut berbunyi:
Dalam rupa maha
sempurna
Rindu sendu mengharu
kalbu
Ingin datang merasa
sentosa
Menyecap hidup
bertentu tuju.
Ungkapan penulis tentang
hidup dan kehidupan serta makna kehidupan pada puisinya yang berjudul “Berdiri
Aku” ini, juga dilatar belakangi kehidupan penulis. Yaitu bahwa penulis
dibesarkan dalam lingkungan terpelajar baik pendidikan duniawi ataupun
pendidikan agamis.
Kajian psikologi
sastra pada puisi “Berdiri Aku” ini juga menitik beratkan pada tokoh dan
perwatakan tokoh “aku”, dan aspek pemikiran dan perasaan pengarang itu sendiri
ketika mencipta karya sastra ini. Perasaan gelisah, kesepian, pencarian,
kerinduan, serta harapan kebahagiann merupakan gambaran dari perasaan hasil
dari pemikiran pengarang yang di terapkan pada tokoh “aku” dengan
perwatakannya. Selain itu, biografi pengarang menjadi bagian latar belakang
yang merupakan bagian bekal dalam memahami karya sastra berdasarkan psikologi
pengarangnya.
BAB IV
PENUTUP
Puisi sebagai bentuk
komunikasi sastra tidak akan terlepas dari peranan pengarang sebagai pencipta
sastra. Maka pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang mengkaji ekspresi
perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981:189). Dan begitu juga pada puisi
“Berdiri Aku” karya Amir Hamzah pengkajiannya lewat pendekatan ekspresif,
merupakan upaya untuk dapat memahami karya sastra ini secara lebih baik sebagai
satu kesatuan yang padu dan bermakna (Burhan Nurgiyantoro).
Berdasarkan
pendekatan ekspresif dengan kajian psikologi sastra, dapat dikatakan bahwa
puisi “Berdiri Aku” karya Amir Hamzah merupakan hasil cipta karya penulisnya
dari pengalaman pada kejiwaan dan pemikiran pengarangnya pada situasi setengah
sadar lalu dituangkan kedalam bentuk secara sadar. Dan Amir Hamzah mampu
mengungkapkan ekspresi kejiwaannya tentang hidup dan kehidupan duniawi ke dalam
puisi “Berdiri Aku” ini.
Kajian psikologi
sastra pada puisi “Berdiri Aku” ini juga menitik beratkan pada tokoh dan
perwatakan tokoh “aku”, dan aspek pemikiran dan perasaan pengarang itu sendiri
ketika mencipta karya sastra ini. Perasaan gelisah, kesepian, pencarian,
kerinduan, serta harapan kebahagiann merupakan gambaran dari perasaan hasil
dari pemikiran pengarang yang di terapkan pada tokoh “aku” dengan
perwatakannya. Selain itu, biografi pengarang menjadi bagian latar belakang
yang merupakan bagian bekal dalam memahami karya sastra berdasarkan psikologi
pengarangnya.
DAFTAR PUSTAKA
Nurgiyantoro, Burhan.
2007. Teori Pengkajian Puisi. Cet. Ke-6. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press
Aminudin. . Pengantar Apresiasi Karya Sastra. . Sinar Baru AlGensindo.
Alisjahbana,
S.Takdir. 2006. Puisi Baru. Jakarta. Dian Rakyat.
Endraswara, Suwardi.
2008. Metodologi Penelitian Sastra, Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi.
Yogyakarta. MedPress.
Siswanto, Wahyudi.
2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta. Grasindo
Ratna, Nyoman Kutha.
2004. Teori Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakata:Pustaka Pelajar
Abdurrahman,
Pendekatan Psikologi Dalam Penelitian Sastra, Makalah. 2003
Ahmad Rohmani,
Nadharriyah Wa Tatbigotuha, Maktaba Wahbah, Kairo, 2004.
Jan Van Luxemburg,
Meiko Bal. Wellem G. Weststeijn: Pengantar Ilmu Sastra. PT. Gramadia Jakarta.
http://anuwan.wordpress.com/2009/01/19/kajian-puisi/
http://andiacg.blogspot.com/2011/12/teori-pendekatan-metode-analisis-sastra.html


