BLOGGER TEMPLATES Funny Pictures

27 Januari 2012

TEORI PENDEKATAN DAN METODE ANALISIS SASTRA PRAGMATIK


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sastra (Sansekerta, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta śāstra, yang berarti “teks yang mengandung instruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar śās- yang berarti “instruksi” atau “ajaran”. Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata “sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak.
Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan. Sastra dilihat dari kebudayaan dapat diartikan sebagai bentuk upaya manusia untuk mengukapkan gagasanya melalui bahasa yang lahir dari perasaan dan pemikirannya. Dalam konteks kesenian, kesusatraan adalah salah satu bentuk atau cabang kesenian yang menggunakan media bahasa sebagai alat pengungkapan gagasan dan perasaan seninya. Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasanya.
Adapun manfaat sastra pada dasarnya adalah sebagai alat komunikasi antara sastrawan dan masyarakat pembacanya. Karya sastra selalu berisi pemikiran, gagasan, kisah-kisah dan amanat yang dikomunikasikan kepada para pembaca. Untuk menangkap ini, pembaca harus bisa mengapresiasikan sebuah mahakarya sastra. Hubungan antara pembaca dengan teks sastra bersifat relatif, teks sastra selalu menyajikan ketidak pastian, sementara pembaca mesti aktif dan kreatif dalam menentukan keanekaan makna teks sastra tersebut.

B. Tujuan Analisis
Mengkaji dan menganalisis karya sastra dengan menggunakan pendekatan pragmatik.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendekatan Pragmatik
Secara umum pendekatan pragmatik adalah pendekatan kritik sastra yang ingin memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra dalam zaman ataupun sepanjang zaman.
Sedangkan menurut para ahli mendefinisikan pendekatan pragmatik adalah sebagai berikut:
1.  Menurut Teeuw, 1994 teori pendekatan pragmatik adalah salah satu bagian ilmu sastra yang merupakan pragmatik kajian sastra yang menitik beratkan dimensi pembaca sebagai penangkap dan pemberi makna terhadap karya satra.
2. Felix Vedika ( Polandia ), pendekatan pragmatik merupakan pendekatan yang tak ubahnya artefak ( benda mati ) pembacanyalah yang menghidupkan sebagai proses konkritasi.
3. Menurut  Abram (1958 : 14 – 21) pendekatan  pragmatik merupakan perhatian utama terhadap peran pembaca. Dalam kaitannya  dengan salah satu teori modern yang paling pesat perkembangannya yaitu teori  resepsi.

Dengan indikator pembaca dan karya sastra, tujuan pendekatan pragmatik  memberi manfaat  terhadap pembaca,  pendekatan  pragmatik secara keseluruhan  berfungsi  untuk menopang  teori resepsi, teori sastra  yang memungkinkan  pemahaman  hakikat  karya sastra tanpa batas.
Pendekatan Pragmatik memberikan perhatian utama terhadap perananan pembaca, dalam kaitannya dengan salah satu teori modern yang paling pesat perkembangannya, yaitu teori resepsi, pendekatan Pragmatik dipertentangkan dengan pendekatan ekspresif. Subjek pragmatik dan subjek ekspresif sebagai pembaca dan pengarang berbagai objek yang sama, yaitu karya sastra. Perbedaanya, pengarang merupakan subjek pencipta, tetapi secara terus-menerus, fungsi-fungsinya dihilangkan, bahkan pada gilirannya pengarang dimatikan. Sebaliknya, pembaca yang sama sekali tidak tahu-menahu tentang proses kreativitas diberikan tugas utama bahkan dianggap sebagai penulis.
Pendekatan pragmatik dengan demikian memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca tersebut. Secara historis ( Abrams, 1976:16 ) pendekatan pragmatik telah ada tahun 14 SM, terkandung dalam Ars Poetica ( Hoatius ). Meskipun demikian, secara teoritis dimulai dengan lahirnya strukturalisme dinamik. Stagnasi srukturalisme memerlukan indikator lain sebagai pemicu proses estetis ,yaitu pembaca ( Mukarovsky ).
Pada tahap tertentu pendekatan pragmatik memiliki hubungan yang cukup dekat dengan sosiologi, yaitu dalam pembicaraan mengenai masyarakat pembaca. Pendekatan pragmatik memliki manfaat terhadap fungsi-fungsi karya sastra dalam masyrakat, perkembangan dan penyebarluasannya, sehingga manfaat karya sastra dapat dirasakan. Dengan indikator pembaca dan karya satra, tujuan pendekatan pragmatik memberikan manfaat terhadap pembaca. Pendekatan pragmatik secara keseluruhan berfungsi untuk menopang teori resepsi, teori sastra yang memungkinkan pemahaman hakikat karya sastra tanpa batas.
Pendekatan pragmatik mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca, maka masalah-masalah yang dapat di pecahkan melalui pendekatan pragmatis, diantaranya berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik sebagai pembaca eksplisit, maupun implisit, baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Teori-teori postrukturalisme sebagian besar bertumpu pada kompetensi pembaca sebab samata-semata pembacalah yang berhasil untuk mengevokasi kekayaan khazanah kultural bangsa.

B. Sejarah Pendekatan Pragmatik
Pada tahun 1960 muncul dua orang tokoh ilmu sastra di Jerman Barat kedua tokoh itu adalah Hans Robert dan Wolfgangler. Keduanya mengembangkan ilmu sastra yang memberikan penekanan terhadap pembaca sabagai pemberi makna karya satra.
Pada tahun 1967 (Teeuw, 1984: 5) ia mengatakan bahwa penelitian sejarah di Eropa sejak lama telah melalui jalan buntu. Hal ini karena pendekatan penulisan sejarah sastra tidak berdasarkan situasi zaman sejak zaman Romantik, dengan adanya paham Nasionalisme,  maka pendekatan penulis sejarah sastra disejajarkan dengan sejarah nasional, dan pendekatan lain yang tidak menghiraukan dinamika sastra terus menerus, entah pada suatu bangsa, suatu periode, suatu angkatan dan suatu zaman.
Apa yang diterima dan dipahami oleh pembaca berpengaruh besar pada perkembangan karya sastra selanjutnya, baik dari segi estentik maupun dari segi sejarah, dari segi estentik karya sastra sebagai seni, pembaca akan menentukan apakah estentik yang mendasari karya sastra diterima atau ditolak. Oleh sebab itu yang dipentingkan dalam pendekatan yang menekankan peranan pembaca sebagai pemberi makna bukanlah atau keindahan  abadi suatu karya sastra, melainkan penerimaan karya sastra pada waktu dan tempat yang berbeda-beda.
Tokoh utama dalam karya sastra yang menekankan peranan pembaca ialah Hans Robert Jousz dalam makalahnya yang bejudul literature alas provocation ( sejarah sastra sebagai tantangan). Ia melancarkan gagasan-gagasan baru yang sempat menggoncangkan dunia. Ilmu sastra tradisional setelah memberi ringkasan mengeanai sejarah sastra antara lain dari aliran marsisme dan formalisme. Menghilangkan faktor yang terpenting dalam proses semiotik yang disebut kesusastraan sastra, dan sikap komunikasinya yang mrnggambarkan hubungan dialog dan proses antara karya sastra dan pembaca. Yaitu pembacalah yang menilai, menafsirkan, memahami dan menikmati karya sastra untuk menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah dan estetis.
Peneliti sejarah sastra bertugas menelusuri resepsi karya sastra sepanjang zaman, keindahan dalah pengertian yang bergantung pada situasi dan latar belakang sosio budaya sipembaca dan ilmu sastra harus meneliti hal itu.

C. Metode Pendekatan Pragmatik
Penelitian resepsi pembaca terhadap karya sastra dapat menggunakan beberapa metode pendekatan, antara lain pendekatan yang bersifat eksperimental, melalui karya sastra yang mementingkan karya sastra yang terikat pada masa tertentu dan ada pada golongan masyarakat tertentu.
a. Kepada pembaca, perorangan atau kelompok disajikan atau diminta pembaca karya sastra sejumlah pertanyaan dalam teks atau angket yang berisi tentang permintaan, tanggapan, kesan, penerimaan terhadap karya yang dibaca tersebut untuk diisi jawaban-jawaban itu kemudian  ditabulasi dan dianalisis.
b. Kepada pembaca perorangan atau kelompok, diminta pembaca karya sastra, kemudian ia diminta untuk menginterpretasikan karya sastra tersebut. Interpretasi-interpretasi yang dibuat tersebut dianalisis secara  kualitatif untuk melihat bagaimana penerimaan atau tanggapan terhadap karya sastra.
c. Kepada masyarakat tertentu diberikan angket untuk melihat prestasi mereka terhadap karya sastra, misalnya melihat prestasi sekelompok kritikus terhadap kontemporer persepsi masyarakat tertentu terhadap karya sastra daerahnya sendiri.

 
BAB III

ANALISIS NOVEL DENGAN PENDEKATAN PRAGMATIK

A. Pengertian Sinopsis
Sinopsis adalah adalah ikhtisar karangan ilmiah yang biasanya diterbitkan bersama-sama dengan karangan asli yang menjadi dasar sinopsis itu, atau ringkasan atau abstraksi (KBBI, 1988: 845). Sinopsis mengandung tiga pengertian yaitu; ikhtisar karangan, ringkasan, atau abstraksi, Keraf (1977: 84) menyatakan bahwa ringkasan sumarry précis adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk pendek. Kata précis berarti memotong atau meringkas.
Adakalanya sebelum kita menganalisis sebuah novel atau sejenisnya yang berupa karangan panjang ada baiknya kita buat sinopsisnya terlebih dahulu, dengan tujuan agar kita dapat memahami dan mengetahui isi cerita sebuah karangan dan mencari unsur-unsur yang terkandung didalamnya.
Adapun sinopsis dalam novel “Wanita Bersabuk Dua” karya Sakti Wibowo adalah sebagai berikut :
“Pada waktu itu Belanda telah memegang kekuasaan diaceh sejak 1874, tetapi bukan berarti mereka bisa menjatuhkan hati kaum muslimin Aceh. Cut Kaso adalah wanita di Aceh yang menderita katarak, namun semangat juangnya masih tampak, kini ia minta kepada anaknya Cut Intan untuk melanjutkan perjuangan melawan belanda, dan mendampingi Rajawali Pase yaitu Cut Mutia, orang yang telah menyakiti hatinya
Pang Nangro dan Chik Tunong heran melihat Cut Intan berlaga di medan perang, memang harimau akan beranakan harimau juga, ayahnya gugur dimedan perang, ibunya seorang mujahidin yang disegani dan dihormati, kini anknya Cut Intan juga ikut turun tangan.
Didalam kelompok (markas) Cut Intan bertemu dengan Cut Mutia yaitu wanita yang didengkinya karena ia telah mengambil orang yang dicintainya (Teungku Syamsarif).
Letnan PRD Dekok mondar-mandir, ia gelisah karena penyergapan tempo lalu, membuat trauma yang sangat besar, persenjataan dan logistik yang dikirim ke Blanghi jatuh ketangan pejuang Aceh yang dipimpin oleh Chik Tunong. Kemudian Dekok menyebarkan orang-orangnya untuk mencari pesembunyian Chik Tunong. Selama tiga bulan pencarian ternyata hasilnya nihil. Untuk kedua kalinya  Belanda tewas ditangan pasukan Chik Tunong. Keguncangan kembali terjadi, dan untuk menyikapi ulah Chik Tunong, Van Herzt, mengirimkan bantuan bataliyon infantri dan enam Brigade Mersase dibawah pimpinan Mayor HNA.
Setibanya di pase Mayor HNA membujuk Cut Asiah untuk berbicara kepada Chik Tunong agar segera menghentikan peperangan, jika tidak keluarganya diancam dibuang jauh. Jauh dari Aceh bahkan dihukum mati. Cut Asiah bersama dengan Teungku menemui Cut intan dan mengabarkan berita duka, ibunya telah meninggal dunia dan  dia menitipkan senjata rencong untuk diberikan kepada Cut Intan. Cut Intan harus rela ditinggal oleh orang yang dikagumi dan dicintainya yaitu ibunya yang kini dekat dihatinya yaitu Chik Tunong. Belanda merasa puas karena pada satu tahun terakhir ini tidak ada perlawanan, semenjak Chik Tunong pergi ke Desa dan hidup menjadi Petani.
Cut Intan menyusun kekuatan sendiri untuk melawan Belanda, secara diam-diam Cut Intan bergerilya membunuh para Mersase Belanda, pihak Belanda sangat marah sekali, kemudian ia mengadakan patroli keliling Desa dan mendatangi rumah Chik Tunong. Padahal Chik Tunong tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya karena ia di rumah bersama istrinya yaitu Cut Mutia yang dulu pernah menikah dengan Teungku Syamsarif.
Pada saat Belanda akan menangkap Chik Tunong, tiba-tiba Cut Intan datang dan membuang semua bukti-bukti yang didapatkan dari pihak Belanda. Belanda pun luluh dan Cut Mutia merasa puas karena suaminya puas dari tuduhan Belanda. Cut Intan memang pantas menyandang gelar Wanita Bersabuk Dua yang dipuji karena ia serupa dengan putri Abu Bakar Dzatin Nathagain adalah wanita perkasa yang Bersabuk Dua di Sorga karena kecerdasan dan kepintarannya. Namun Volizers tetap saja mencari kebenaran yang terjadi. Hari berikutnya Chik Tunong ditangkap Belanda dan dijatuhkan hukuman mati.
Cut Intan pergi menyendiri dan berhenti bergerilya, masyarakat sungguh kehilangan Wanita Bersabuk Dua yang cedas dan bijaksana itu. Cut Intan merasa bahwa dirinya adalah wanita yang kurang beruntung karena ia harus kecewa dan sakit hati oleh ulah Cut Mutia.
Karena Cut Mutia menikah lagi dengan pengnangro yaitu laki-laki ketiga yang ada dihati Cut Intan. Namun Cut Intan tidak bisa melihat penderitaan rakyat dan meninggalkan perjuangan hanya karena masalah yang konyol itu. Akhirnya diapun bergabung lagi dengan para pejuang dan disaat perang melawaan Belanda ia bertemu dengan Cut Mutia, kemudian ia tertembak, didalam pelukan Cut Mutia, Cut Intan berkata “kali ini aku yang menang Cut Mutia”

B. Pembahasan Analisis Pragmatik
Analisis pragmatik adalah pendekatan sastra yang ingin memperlihatkan kesan dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra sepanjang zaman. Maka dengan ini kami akan mengulas tentang tanggapan dari pembaca tentang novel ini.
Adapun kehadiran novel Wanita Bersabuk Dua karya Sakti Wibowo ini merupakan novel yang mengarahkan para pembaca kepada kebaikan karena novel ini berisikan tentang perjuangan seorang wanita dalam menghadapi berbagai masalah untuk merebut daerahnya dengan kesendirian dan kepintarannya mengatur strategi. Novel ini juga menceritakan tentang seorang wanita dalam menghadapi masalah misalnya masalah cinta. Walaupun temannya menyakiti hatinya merebut kekasihnya namun Cut Intan tak memikirkan nasibnya namun ia berjuang demi nasib masyarakat Aceh. Novel ini juga menceritakan  tentang perjuangan seorang wanita yang bernama Cut Intan putri dari Cut Kaso. Cut Intan ini adalah sosok wanita yang tegar dan berani menghadapi berbagai rintangan untuk melawan penjajah Belanda.
Apabila kehidupan diatas dikaitkan dengan kehidupan kita sekarang, jarang sekali ada orang yang perduli tentang perjuangan seorang wanita dan rela meninggalkan orang yang dicintai untuk membela Bangsa dan Negara. Disinilah letak pesan moral yang dapat kita ambil dalam Novel “Wanita Bersabuk Dua” berdasarkan analisis unsur pragmatiknya.


BAB IV

PENUTUP

Berdasarkan pembahasan tentang pemahaman kritik pragmatik dalam novel Wanita Besabuk Dua karya Sakti Wibowo ini maka penulis dapat menyimpulkan bahwa pendekatan pragmatik ini memandang karya sastra sebagai sarana untuk mencapai tujuan pada pembaca (keindahan, pendidikan, dll). Pendekatan ini cenderung menimbang nilai berdasarkan keberhasilan tujuan pengarang bagi pembaca.
Novel ini memang patut untuk dibaca karena selain ceritanya menarik, novel ini juga menyampaikan pesan moral yang baik dan jarang dilakukan oleh kebanyakan orang, yaitu dimana kebanyakan orang menganggap wanita tidak bisa memperjuangkan bangsa. Seperti yang telah dibuktikan dalam Analisa pragmatik. Hal itu karna pengarang menyajikan tema yang penuh tantangan, godaan dan hikmah. Pengarang juga mampu merangkai kata dengan manis, menyentuh, sehingga pesan yang disampaikan membuat pembaca terharu. Tokoh Cut Intan juga banyak menimbulkan inspirasi bagi sebagian pembacanya.


DAFTAR PUSTAKA
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakata:Pustaka Pelajar
Keraf, Goris. 1986. KOMPOSISI. Ende Flores. : Nusa Indah. Yogyakarta.
Aminudin. 1990. Sekitar Masalah Sastra. Yayasan Asah Asih Asuh. Malang.
B. Rahmanto. 1998. Mengkaji Ulang Pembelajaran Sastra. Yogyakarta Universitas Sanata Dharma
http://yusfimembaca.blogspot.com/2011/11/pemahaman-kritik-pragmatik-dalam-novel.html


3 Januari 2012

PENDEKATAN PSIKOLOGI & METODE ANALIS PUISI


BAB I
PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG
Sastra Secara kronologis adalah tulisan. Dilihat dari maknanya sastra adalah kegiatan yang kreatif sebuah karya sastra. Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan pertama tama sebuah imifasi. Sang seniman menciptakan sebuah dunia baru, meneruskan proses penciptaan di dalam semesta alam, bahkan menyempurnakannya.
Sastra merupakan suatu luapan emosi yang spontan. Dalam puisi terungkapkan nafsu-nafsu kodrat yang bernyala-nyala, hakekat hidup dan alam. Menurut Jackobson sastra merupakan suatu yang bersifat otonom. Tidak mengacu pada sesuatu yang lain. Sastra tidak bersifat komunikatif. Sang penyair hanya mencari keselarasannya di dalam karyanya sendiri. Menurut Coleridge sastra merupakan suatu yang otonom yang bercirikan suatu koherensi. Pengertian koherensi itu mengacu pada keselarasan yang mendalam antara bentuk atau ungkapan tertentu. Berangkat dari berbagai persoalan yang berkaitan dengan pendefinisian sastra yang bermacam-macam tersebut, maka dikalangan akademik seringkali sastra juga didefinisikan sesuai dengan kerangka teori yang mendasarinya.
Berbicara tentang psikologi berarti berbicara tentang kehidupan manusia. Dikatakan demikian karena bertolak dari konsep dasar psikologi, bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Dengan belajar psikologi, seseorang mampu membaca atau mengkaji sisi-sisi kehidupan manusia dari segi yang bisa diamati. Jiwa itu bersifat abstrak, sehingga ia dapat diamati secara empiris. Padahal objek kajian setiap ilmu harus dapat diobservasi secara individu. Dalam hal ini “jiwa” atau “keadaan jiwa” hanya dapat diamati melalui gejala-gejalanya. Walaupun besar kemungkinan gerak-gerik lahir seseorang yang belum tentu menggambarkan keadaan jiwa yang sebenarnya. Dalam psikologi ini dikenal juga tentang psikologi sastra, dimana sastra sendiri merupakan sebuah bidang kebudayaan manusia yang paling tua yang mendahului cabang-cabang kebudayaan lainnya (Mangunwijaya, 1986:3-7). Sistem kerja psikologi sastra tidak sama seperti psikologi yang lainnya. Psikologi sastra lebih mengarah pada penelitian yang luas yang ditandai dengan penelitian terhadap responden yang jumlahnya terbatas. Dan juga sering menerapkan metode penelitian yang baru untuk menguji hipotesis yang diformulasikan dalam suatu fase yang lebih awal.

B.  Rumusan
1.    Konsep-konsep dalam Psikologi Sastra.
2.    Keterkaitan antara Psikologi dengan sastra
3.    Metode dan Analisis Pendekatan Psikologis Sastra.

C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui konsep-konsep psikologi sastra,
2. Mengetahui hubungan keterkaitan antara psikologi dengan sastra
3. Mengetahui Metode dan Analisis Psikologi dalam sebuah karya Sastra
4. Untuk memenuhi Tugas mata kuliah Teori Sastra



BAB II
PEMBAHASAN


A.  Konsep Psikilogi
Dalam kaitannya dengan konsep psikologi sastra, ada beberapa tokoh psikologi terkemuka yang mengungkapkan konsep psikologi sastra sebagai berikut :
1.      Sigmund Freud
Dalam konsepnya Freud bertolak pada psikologi umum, dia menyatakan bahwa dalam diri manusia ada 3 bagian yaitu ide, ego dan super-ego. Jika ketiganya bekerja secara wajar dan seimbang maka manusia akan memperlihatkan watak yang wajar pula, namun jika ketiga unsur tersebut tidak bekerja secara seimbang, dan salah satunya lebih mendominasi, maka akan terjadilah peperangan dalam batin atau jiwa manusia, dengan gejala-gejala resah, gelisah, tertekan dan neurosis yang menghendaki adanya penyaluran. Dalam penggambarannya tentang pengarang dan menciptakan karya sastra, Freud mengatakan bahwa pengarang tersebut diserang penyakit jiwa yang dinamakan neurosis bahkan bisa mencapai tahap psikosis, seperti sakit saraf dan mental yang membuatnya berada dalam kondisi yang sangat tertekan, keluh kesah tersebut mengakibatkan munculnya ide dan gagasan, yang menghendaki agar disuplimasikan dalam bentuk karya sastra.

2.      Mortimer Adler  Simon
Adler merupakan salah seorang murid Freud. Namun dia banyak menyangkal pendapat dari Freud sendiri. Adler terkenal dengan sebutan inferiority complet atau perasaan rendah diri, yang pada dasarnya adalah merupakan teori dari Al-Jahid. Teori tersebut memungkinkan Adler menyelami teks untuk mencari bentuk-bentuk pengganti kekurangan dalam diri, akan tetapi dalam penerapannya Adler tidak bisa mencapai kepuasan seperti kepuasan yang dicapai oleh Freud.

B.  Psikologi
Secara etimologi kata psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno Psyche dan logos. Kata psyche berarti “jiwa, roh, atau sukma”, sedangkan kata logos berarti “ ilmu jiwa”. Jadi psikologi secara harafiah berarti “ilmu jiwa” atau ilmu yang objek kajiannya adalah jiwa. Istilah psikologi digunakan pertama kali oleh seorang ahli berkebangsaan Jerman yang bernama Philip Melancchton pada tahun 1530. Adapun pendapat dari tokoh-tokoh lain tentang psikologi yakni :
1.         Psikologi merupakan suatu ilmu yang menyelidiki serta mempelajari tentang tingkah laku serta aktivitas-aktivitas, dimana tingkah laku serta aktivitas-aktivitas itu sebagai manifestasi hidup kejiwaan. Jadi yang dipelajari bukanlah tingkah lakunya “an Sich” (Bimo Walgito, 1981).
2.         Menurut Siswantoro (2005:26) Psikologi sebagai ilmu jiwa yang menekankan perhatian studinya pada manusia terutama pada perilaku manusia (Human behavioristik or action).
3.         Berbicara tentang manusia, psikologi jelas terlibat erat karena psikologi mempelajari perilaku. Perilaku manusia tidak terlepas dari aspek kehidupan yang membungkusnya dan mewarnai perilakunya. Hal ini dikatan oleh Teeuw (1991:62-64).

C.  Psikologi Sastra
Psikologi sastra meliputi bidang penelitian yang luas, hanya ada sebagian yang relevansi dengan penelitian resepsi sastra secara langsung, yakni penelitian psikologis yang berkenaan dengan pernyataan apakah reaksi interpretatif dan reaksi evaluatif pembaca terhadap teks sastra dapat diselidiki. Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya sebagai aktivitas kejiwaan.
Istilah psikologi sastra mengandung empat kemungkinan pengertian :
Studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi
Studi proses kreatif
Studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra.
Studi dampak sastra terhadap pembaca (psikologi pembaca).
Dari keempat pengertian di atas yang paling berkaitan dengan bidang sastra adalah pengertian ke-3, sedangkan pengertian nomor (1) dan (2) merupakan bagian dari psikologi seni. Studi tentang psikologi pengarang dan proses kreatif sering dipakai dalam pengajaran sastra, namun dalam penilaian sastra sebaiknya asal-usul dan proses penciptaan sastra tidak menjadi patokan untuk memberi penilaian.

D.  Kaitan antara Psikologi dengan Sastra
Hubungan atau kaitan antara psikologi dengan sastra sebenarnya telah lama ada semenjak usia ilmu itu sendiri. Akan tetapi penggunaan psikologi sebagai sebuah pendekatan dalam penelitian sastra belum lama dilakukan, menurut Robert Downs (1961:1949, dalam Abdul Rahman, (2003:1), bahwa psikologi itu sendiri bekerja pada suatu wilayah yang gelap, mistik dan yang paling peka terhadap bukti-bukti ilmiah. Psikologi dalam karya sastra mempunyai kaitan yang tercakup dalam dua aspek yaitu : Unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Dalam aspek ekstrinsik berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan faktor-faktor kepengarangan dan proses kreativitasnya. Sementara unsur intrinsik membicarakan tentang unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam karya sastra seperti unsur tema, perwatakan dan plot. Jatman ((1985:165) berpendapat bahwa karya sastra dan psikologi memang memiliki pertautan yang erat, secara tak langsung dan fungsional. Pertautan tak langsung karena, baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu kehidupan manusia. Psikologi dan sastra memiliki hubungan fungsional karena, sama-sama untuk mempelajari keadaan kejiwaan orang lain, bedanya dalam psikologi gejala tersebut riil, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif. Dalam kaitannya dengan psikologi dalam karya sastra, Carld G.Jung menandaskan bahwa karena psikologi mempelajari proses-proses kejiwaan manusia, maka psikologi dapat diikut sertakan dalam studi sastra, sebab jiwa manusia merupakan sumber dari segala ilmu pengetahuan dan kesenian.



BAB III
METODE DAN ANALISIS


A.  METODE PENDEKATAN PSIKOLOGIS
Secara etimologis, Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi dari metode adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan. Dalam keterkaitannya dengan pendekatan Psikologis sastra, terdapat berbagai macam metode yang dapat digunakan, berikut beberapa metode yang digunakan:

1.      Metode Filosofis
Yaitu metode yang memanfaatkan pemikiran. Dalam metode ini mencangkup diantaranya:
a.    Metode Intuitif
Metode ini adalah metode yang dapat dilakukan dengan cara sengaja maupun tidak disengaja. Yaitu dengan memperhatikan atau menyimak seseorang dikehidupan sehari-harinya. Tujuannya adalah untuk mengetahui situasi yang akan terjadi, karna kita telah mengetahui dari yang biasa terjadi
b.    Metode Kontemplatif
Metode ini adalah metode yang dilaksanakan dengan cara merenungkan kontemplasi terhadap objek yang diselidiki, dengan mempergunakan kemampuan berfikir yang optimal (konsentrasi). Metode ini memiliki tujuan yang tidak jauh berbeda denga metode intuitif, tetapi dalam metode ini kita bisa memikirkan atau menggabungkan apa yang baru kita temukan dengan yang sudah kita temukan.
c.    Metode yang Bersifat Filosofis Religius
Metode yang digunakan untuk mengetahui pribadi manusia dengan melihat norma-norma yang ada didalam agama. Tujuan untuk mengetahui psikologi manusia atau pribadi manusia dengan menggunakan materi agama yang ada dalam kitab-kitab agama.

2.      Metode Observasi
Observasi berasal dara kata observe, yang berarti meneliti atau mengamati atau pengamatan dan pencatatan fenomena-fenomena yang diselidiki dengan sistimatis. Observasi adalah mengamati situasi yang ada, situasi yang terjadi secara spontan, tidak di buat-buat, yang disebut juga dengan situasi yang sesuai dengan kehendak alam (alamiah). Dan hasil  pengamatan dicatat secara teliti untuk diambil kesimpulan-kesimpulan umum dan khusus. Tujuan metode observasi dalam psikologi banyak dilakukan untuk memepelajari tingkah laku, interaksi sosial dan aktifitas keagamaan dan kejadian lain yang dapat dieksperimenkan. Pada hahekatnya eksperimen merupakan salah satu metode observasi yang dibatasi dengan menciptakan kondisi-kondisi tertentu.

B.  ANALISIS PUISI

PUISI
Berdiri Aku
(Karya: Amir Hamzah)

Berdiri aku disenja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang.

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun alun di atas alas
Benag raja mencelup ujung
Naik marak menyerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak.
Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju.

C.  PENAFSIRAN PEMAHAMAN PUISI
 Puisi dapat mengandung isi yang bersifat faktual serta sesuatu yang bersifat abstrak. Maka dalam memahaminya, terdapat puisi yang dapat langsung difahami dan ada juga diperlukan penafsiran terlebih dahulu. Dalam menafsirkan puisi terdapat banyak teori-teori. Namun Tzvetan Todorov, memperingatkan tentang bahaya mendewakan teori. Bagi Todorov adalah lebih baik berspekulasi, sambil juga meraba-raba, tetapi sepenuhnya memiliki kesadaran diri, dari pada merasa memiliki pemahaman tetapi masih buta dan nekat bergerak membabi buta.
Dan berikut contoh penafsiran pemahaman secara sederhana puisi “Berdiri Aku” karya Amir Hamzah ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
Dengan puisinya ini, Amir Hamzah (pengarang) merenung dalam kesendiriannya, dimana pengarang menunggu/mencari tentang makna hidup (judul puisi). Dimana warna-warni, seluk-beluk, kejadian-kejadian, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam ini sangat beraneka ragam, corak, dan jenis. Pengarang mendeskripsikan kehidupan, sebagaimana kehidupan dan hiruk pikuk peristiwa yang terjadi di laut, pantai, dan gunung (bait 1 dan 2), dan pelangi (bait 3). Lalu dalam kesendiriannya ini, pengarang mencoba merenung mencari sesuatu yang diidam-idamkan semua manusia. Sesuatu yang dicari dalam hidup ini, yaitu tentang tujuan yang pasti dan terarah. Dan hal inilah yang menjadi pangkal kehidupan manusia. Yaitu masa aman, tentram, masa kesejahteraan, dan kebahagiaan (bait 4).

D.  KAJIAN BERDASARKAN TINJAUAN PSIKOLOGIS
 Asumsi dasar penelitian pikologi sastra antara lain dipengaruhi oleh anggapan bahwa karya sastra merupakan produk dari suatu kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar (subconcius) setelah jelas baru dituangkan kedalam bentuk secara sadar (conscius). Dan kekuatan karya sastra dapat dilihat dari seberapa jauh pengarang mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaan yang tak sadar itu ke dalam sebuah cipta sastra.
Pada puisi “Berdiri Aku” ini, Amir Hamzah mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaannya tentang sesuatu yang merasuk dalam imajinasi dan pemikirannya tentang pencarian makna hidup dan tentang sesuatu yang menjadi tujuan utama manusia dalam kehidupan ini. Lalu pengalamannya tersebut menjadi imajinasi yang melahirkan produk kreatifitas yang berupa karya sastra dalam puisinnya yang berjudul “Berdiri Aku” ini.
Misalnya pada bait ke 1
Berdiri aku disenja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjulang datang ubur terkembang.
Penulis mengungkapkan rasa emosionalnya tentang apa yang dirasakannya pada apa yang dilihatnya. Penantian dan perenungan diri terhadap apa yang dilihatnya tentang peristiwa/kejadian di suatu pantai/laut menjadi pengalaman yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Begitu juga pada bait ke dua :
Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun alun di atas alas.
Pada bait ini, penulis mengungkapkan hubungan antara kehidupan manusia dengan peristiwa alam. Terlihat pada baris – Angin pulang menyejuk bumi – Menepuk teluk mengempas emas – bahwa angin laut (peristiwa alami) dapat dimanfaatkan oleh nelayan (kegiatan manusia) untuk membawa perahunya ke daratan dengan membawa hasil lautnya.
Selain itu perwatakan tokoh yang ditampilkan Amir Hamzah mampu menggambarkan perwatakan tokoh yang semakin hidup. Dimana tokoh “aku” pada puisinya ini tiada lain adalah dirinya sendiri. Namun selain itu tokoh “aku” juga bisa mewakili manusia secara umum. Dimana terlihat dalam setiap baitnya, tokoh “aku” menjadi subjek sekaligus objek dari setiap makna yang dimaksudnya.
Sentuhan-sentuhan emosi yang ditampilkan tokoh “aku” dalam puisi Amir Hamzah ini sebetulnya gambaran kekalutan dan kejernihan batin pencipta karya sastranya sendiri. Hal ini menjadikan keorsinilan karya sastra ini. Kekalutan ini terlihat pada penggambarannya tentang proses alam sebagai bagian dari yang mewarnai kehidupan, dan yang menggambarkan peristiwa-peristiwa/kejadian-kejadian dari kehidupan manusia. Hal ini nampak pada bait ke 3 :
Benag raja mencelup ujung
Naik marak menyerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak.
Bait ini bermakna, pelangi yang membentang dari satu ujung, naik ke langit dan turun di satu ujung lainnya dengan keindahan warna-warni yang dapat membuat lupa siapapun yang melihatnya, yang padahal pelangi itu hanyalah sesuatu yang semu, tidak dapat disentuh, namun hanya dapat dilihat saja. Hal ini juga merupakan gambaran pengarang tentang kehidupan ini. menggambarkan tentang ambisi manusia, nafsu manusia, dalam berusaha dan melihat sesuatu tentang duniawi.
Amir Hamzah dalam mencipta puisi ini, menggunakan cipta, rasa, dan karyanya. Ia, mengungkapkan gejolak jiwanya tentang kehidupan dan tujuan kehidupan ini. Dimana pada bait terakhir, penulis mengungkapkan gagasan dari puncak kegelisahan jiwaannya dengan ungkapannya bahwa  dalam semua peristiwa yang terjadi baik yang terjadi oleh sebab manusia ataupun alamiah merupakan gambaran dari kehidupan yang dapat ditafakuri manusia sebagai sesuatu yang sangat sempurna, dari kegelisahan rasa rindu yang menggugah rasa haru di hati dan perasaan untuk mencapai keinginan yang didambakan yaitu merasakan kebahagiaan, kesejahteraan dalam tujuan yang jelas dalam kehidupan ini. Bait tersebut berbunyi:
Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju.
Ungkapan penulis tentang hidup dan kehidupan serta makna kehidupan pada puisinya yang berjudul “Berdiri Aku” ini, juga dilatar belakangi kehidupan penulis. Yaitu bahwa penulis dibesarkan dalam lingkungan terpelajar baik pendidikan duniawi ataupun pendidikan agamis.

Kajian psikologi sastra pada puisi “Berdiri Aku” ini juga menitik beratkan pada tokoh dan perwatakan tokoh “aku”, dan aspek pemikiran dan perasaan pengarang itu sendiri ketika mencipta karya sastra ini. Perasaan gelisah, kesepian, pencarian, kerinduan, serta harapan kebahagiann merupakan gambaran dari perasaan hasil dari pemikiran pengarang yang di terapkan pada tokoh “aku” dengan perwatakannya. Selain itu, biografi pengarang menjadi bagian latar belakang yang merupakan bagian bekal dalam memahami karya sastra berdasarkan psikologi pengarangnya.


BAB IV
PENUTUP

Puisi sebagai bentuk komunikasi sastra tidak akan terlepas dari peranan pengarang sebagai pencipta sastra. Maka pendekatan ekspresif merupakan pendekatan yang mengkaji ekspresi perasaan atau temperamen penulis (Abrams, 1981:189). Dan begitu juga pada puisi “Berdiri Aku” karya Amir Hamzah pengkajiannya lewat pendekatan ekspresif, merupakan upaya untuk dapat memahami karya sastra ini secara lebih baik sebagai satu kesatuan yang padu dan bermakna (Burhan Nurgiyantoro).
Berdasarkan pendekatan ekspresif dengan kajian psikologi sastra, dapat dikatakan bahwa puisi “Berdiri Aku” karya Amir Hamzah merupakan hasil cipta karya penulisnya dari pengalaman pada kejiwaan dan pemikiran pengarangnya pada situasi setengah sadar lalu dituangkan kedalam bentuk secara sadar. Dan Amir Hamzah mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaannya tentang hidup dan kehidupan duniawi ke dalam puisi “Berdiri Aku” ini.
Kajian psikologi sastra pada puisi “Berdiri Aku” ini juga menitik beratkan pada tokoh dan perwatakan tokoh “aku”, dan aspek pemikiran dan perasaan pengarang itu sendiri ketika mencipta karya sastra ini. Perasaan gelisah, kesepian, pencarian, kerinduan, serta harapan kebahagiann merupakan gambaran dari perasaan hasil dari pemikiran pengarang yang di terapkan pada tokoh “aku” dengan perwatakannya. Selain itu, biografi pengarang menjadi bagian latar belakang yang merupakan bagian bekal dalam memahami karya sastra berdasarkan psikologi pengarangnya.


DAFTAR PUSTAKA
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Puisi. Cet. Ke-6. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Aminudin.     . Pengantar Apresiasi Karya Sastra.     . Sinar Baru AlGensindo.
Alisjahbana, S.Takdir. 2006. Puisi Baru. Jakarta. Dian Rakyat.
Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian Sastra, Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta. MedPress.
Siswanto, Wahyudi. 2008. Pengantar Teori Sastra. Jakarta. Grasindo
Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori Metode dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakata:Pustaka Pelajar

Abdurrahman, Pendekatan Psikologi Dalam Penelitian Sastra, Makalah. 2003
Ahmad Rohmani, Nadharriyah Wa Tatbigotuha, Maktaba Wahbah, Kairo, 2004.
Jan Van Luxemburg, Meiko Bal. Wellem G. Weststeijn: Pengantar Ilmu Sastra. PT. Gramadia Jakarta.

http://anuwan.wordpress.com/2009/01/19/kajian-puisi/
http://andiacg.blogspot.com/2011/12/teori-pendekatan-metode-analisis-sastra.html

30 Desember 2011

GARIS HIDUP BERLINGKARAN

Bab I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dasar hidup berlingkar lingkaran dalam bahasa belanda (concentrische cirkels) yaitu cara suatu kelompok atau komunitas dengan tujuan tertentu yang tiap masing masing kelompok mempunyai lingkaran atau sirkle sendiri sendiri yang dapat berpisah, dapat berhubungan dan dapat bersatu juga menurut perkara dan keadaannya masing - masing yang menjadi kepentingannya. Misal tentang alam pendidikan yang sudah di kategorikan dalam kelompok - kelompok tertentu. Dalam teori ini mencangkup pembahasan mmengenai sistim among yang mewajibkan kepada kita supaya senantiasa mengingat dan mengakui, bahwa tiap manusia itu mempunyai alam ( levenscirkels ) yang bermacam – macam dan khak. Persatuan yang mengingat adanya lingkaran – lingkaran ini niscayalah akan tegak dan kuat berdirinya, karena tersusun runtut menurut kodrat ( harmonis dan natuurlijk ). Dalam teori konsentrisitet ini dijelaskan bawasannya kita harus peka dan tanggap terhadap soal atau keadan apapun, dimana dalam teori ini kepentingan persatuan yang diutamakan. Menurut Ki Hajar Dewantara mengenai Persatuan “ tidak ada persatuan akan berdiri langsung jika hanya disandarkan atas peraturan “harus bersatu” saja, tidak  dengan mengingat hak diri dan tertib damainya milieu. Persatuan yang disusun asal bersatu saja nyatalah suatu persatuan yang pada waktu lahirnya sudah mengandung benih perpecahan, dan kemudian  tentu akan merupakan suatu “broze eenheid met voze kern”  yaitu kesatuan yang rapuh dan lapuk sendinya.


1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan penulisan ini diharapkan pembaca dapat mengerti dan memahami akan arti dan wujud garis hidup  yang berlingkar lingkaran, agar tercipta tertib damai

1.3 Landasan Teori
Dasar konsentrisitet maksud sistem “Among” yaitu cara pendidikan yang dipakai dalam Taman Siswa dengan maksud mewajibkan kepada guru, supaya mengingati dan mementingkan “kodrat alam” anak murid dengan tidak melupakan segala keadaan yang mengelilinginya. Oleh karena itu seorang guru harus memberikan tuntunan dan menyokong anak didiknya dalam mereka tumbuh dan berkembang atas dasar kodratnya sendiri, melenyapkan segala yang merintangi tumbuh dan berkembangnya dan mendekatkan anak anak pada alam dan masyarakatnya.
Ki Hajar memberikan gambaran mengenai sistim “Among” bahwa “ seorang guru haruslah berfikir terhadap murid, berperasaan dan bersikap sebagai Juru Tani terhadap tanaman dan peliharaannya, bukannya tanaman ditaklukan oleh kemauan dan keinginan Juru Tani, melainkan Juru Tani harus menyerahkan dan mengabdikan dirinya pada kesuburan tanamannya itu. Kesuburun tanamannya inilah yang menjadi kepentingan Juru Tani. Demikian juga halnya seorang guru terhadap muridnya yang selayaknya patut menerapkan ajaran yang telah di gambarkan oleh Ki Hajar Dewantara.

Berikut contoh gambaran adanya suatu lingkaran yang umumnya dapat kita jumpai pada kehidupan sehari hari :

a. Lingkaran Keluarga
Dalam sirkel ini dimana manusia merasa bersatu dengan anggota - anggota lainnya dalam keluarga ( Ibu,Bapak,kakak,adik,anak ) dalam sirkel inilah manusia memiliki titik pusat terdekat diantara sirkel - sirkel lainnya.

b. Lingkaran Kebangsaan
Dimana atau dalam alam mana manusia itu mengalami proses adaptasi dengan orang - orang lain yang sebangsa. Misalnnya dalam lingkungan Universitas dimana manusia di persatukan dengan saudara sebangsa dan setanah air, dari sirkel inilah tumbuhnya sirkel kebangsaan.

c. Lingkaran Kemanusiaan
Pada lingkaran ini manusia lebih besar memiliki hubungan, tidak hanya dengan satu rumpun bangsa saja melainkan dari segala penjuru Negara di dunia. Dengan mengingat kodratnya  sebagai seorang  manusia ciptaan Tuhan YME, maka timbulah jiwa kemanusiaan akan hubungan persaudaraan, dari sinilah munculnya sirkel kemanusiaan.

d.  Lingkaran Keagamaan
Sebagai contoh kita sedang mejalankan ibadah di tempat ibadah, di situlah adanya sirkel keagamaan. Contoh lain nya misal organisasi - organisasi ke Agamaan yang terbentuk atas dasar misi dan visi dari agama itu. Dan masih banyak lagi sirkel yang ada pada manusia karena semata - mata kadang manusia tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada pada sebuah sirkel tertentu.



Bab II
PEMBAHASAN
1.  Manakah garis garis lingkaran dari manusia itu ?
2.  Bilamana kita menyadari adanya lingkaran itu ?
3.  Manakah yang lebih baik, mementingkan kepentingan nasional diatas kepentingan   keluarga atau sebaliknya ?

1. Tiap manusia itu berdiri sebagai titik pusat atau “middelpunt” dari beberapa sirkel di sekelilingnya. Rasa dirinya selalu memberi keyakinan kepadanya bahwa ia adalah pusatnya alam, yaitu alamnya sendiri yang di persatukan olehnya dengan dirinya sendiri. Dalam ilmu jiwa ini di namakan Adaptatie process.

2. Tentang kapan kita menyadari adanya suatu lingkaran itu,  pada umumnya kita pasif, mungkin kita bisa menyadari dengan sendirinya atau bahkan mungkin diluar kesadaran kita. Sebagai contoh :
Kita berada  dalam satu lingkup sirkel kebangsaan sedang mengadakan musyawarah kemanusiaan, di tengah musyawarah tiba-tiba datanglah seseorang memberitahukan bahwa salah satu dari keluarganya meninggal dunia, dari kejadian ini percayalah bahwa ketika itu juga salah satu dari keluarga korban tersebut minta diri dari rapat karna harus pulang. Dari gambaran contoh itulah kita dapat mengetahui kapan sirkel itu muncul yang kadang seseorang tidak menyadarinya, yang awal mula berdiri dalam suatu lingkaran kebangsaan dengan sendirinya tertarik dalam Lingakaran Keluarga.
Boleh juga kita dengan sengaja mencari lingkaran yang tertentu dengan mempersatukan diri dengan alam tertentu, dalam ilmu jiwa ini dinakamakan “conatief vermogen”, tetapi pada umumnya hal itu tergantung pada keadaan semata-mata.

3. Seringkali kita bertanya manakah yang lebih baik, mementingkan kepentingan kenasionalan diatas kepentingan keluarga atau  sebaliknya ??
Tentang hal ini tergantung  dari tabiat atau watak seseorang. Manusia yang mempunyai  watak individualistis tentu tidak akan suka menolong orang lain, sebelum dirinya sendiri benar - benar  tertolong, dan orang semacam ini akan menyalahkan orang lain yang berbuat sebaliknya. Hanya saja pada umumnya kodrat manusia itu lebih besar pengaruhnya dari pada pengajaran, atau dalam bahasa belanda “ de natuur is sterker dan de leer”. Dari keterangan ini manusia itu harus suka dan sangggup menempatkan masyarakat diatas kepentingan pribadi. Tetapi sesungguhnya semua itu didasarkan pada geraknya perasaan konsentris pada jiwa manusia.



Bab III
KESIMPULAN

Hendaknya kita sadar dan mengerti benar bahwa persatuan yang tersusun konsentris akan berbuah baik kalau kita selalu mengingat akan adanya lingkaran lingkaran hidup yang konsentris yang masing - masing mempunyai dan membatasi alamnya sendiri - sendiri dan harus selalu saling menghubungkan alam alam itu dengan tertib dan damai. Persatuan yang tersusun konsentris niscayalah akan menjadi persatuan yang kekal dan kokoh, karena semata-mata teratur sintesis harmonis dan menurut kodrat iradatnya keadaan. Persatuan yang bertitik pusat sama walaupun mempunyai beberapa sirkel tak akan dapat binasa karena jalannya lingkaran itu tidak saling berbentrokan, akan tetapi bersamaan, antara alam yang satu memangku alam yang lain. Jadi berlaku tertib. Persatuan yang demikian itu dapat menghindari rasa diri dari sifat egoisme maupun individualisme karena yang bersamaan titik pusatnya itu sudah menyatukan diri yang memiliki sifat suci. Demikianlah persatuan yang beriradat “suci ngesti tunggal” yang dapat mendatangkan selamat bahagia buat diri dan tertib damai buat masyarakat.


PUSTAKA

Dewantara, Ki Hajar, Karya Ki Hajar Dewantara bagian pertama: Pendidikan, Yogyakarta: Yayasan Persatuan Tamansiswa